ORDO KARMEL

Ordo karmel tidak mempunyai seorang pendiri, melainkan hanya seorang tokoh inspirator yakni Nabi Elia. Gunung Karmel pada masa Perjanjian Lama karena menjadi hunian dari Nabi Elia (bdk I Raj 18:20-46).

Kelompok Para Pertapa di Gunung Karmel kemudian meminta Albertus dari Avogadro, Patriakh Yerusalem, untuk meneguhkan pola hidup kelompok mereka. Albertus menuliskan Pedoman Hidup bagi para pertapa tersebut menurut pola hidup yang sudah mereka hayati.

Ketenangan hidup di Gunung Karmel terganggu oleh gejolak politik. Tanah suci berangsur-angsur dikuasai oleh kaum Sarasin (bdk Perang Salib). Sekitar tahun 1238 kelompok-kelompok karmelit mulai pindah ke Eropa. Perpindahan ke Eropa bukanlah melulu soal perubahan tempat, melainkan terutama menjadi soal perkembangan pola hidup. Di Eropa para karmelit menghayati hidup mendikan yang saat itu sangat lazim, seperti ordo Fransiskan dan Dominikan. Mereka juga mengembangkan pola hidup persaudaraan. Maka tidaklah mengherankan bila Ordo Karmel kemudian mendapat nama resmi Ordo saudara-saudara santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Pada tahun 1923, Ordo Karmel masuk ke Indonesia, khususnya di Malang. Melihat adanya tanda-tanda mendapat calon calon yang mau menjadi Karmelit maka dimulailah Pendidikan Karmelit di Indonesia. Tahbisan pertama terjadi pada tahun 1937. Setelah melewati proses yang panjang akhirnya pada tahun 1967 berdirilah Provinsi Ordo Karmel Indonesia yang berpusat di Malang. Pada tahun 1965, ordo karmel membuka ladang baru di Sumatera Utara dengan masuk ke wilayah keuskupan Agung Medan. Pada tahun 1968, Provinsi Karmel Indonesia menerima tawaran dari Keuskupan Agung Ende-Flores. Tahun 1972 Ordo Karmel berkarya di keuskupan Agung Jakarta, dan membuka misi di Timor Leste tahun 1998. Selain itu, Ordo Karmel juga menyumbangkan tenaga Pastoral untuk berkarya di Keuskupan Manokwari Sorong dan Samarinda. Tahun 2006 Ordo Karmel membuka karya pelayanannya di Keuskupan Denpasar secara khusus Pelayanan Rumah Retret bertempat di Desa Batunya-Baturiti.